Pendahuluan

Anggaran riset dapat membeli alat dan waktu, tetapi tidak dapat menggantikan peneliti. Pada 2026 pemerintah menyampaikan tambahan anggaran riset Rp4 triliun, sementara BRIN juga menyiapkan formasi periset untuk bidang prioritas [1][2]. Kritik yang penting bukan menolak kenaikan itu, melainkan menanyakan apakah manusia, karier, fasilitas, dan pengguna hasil sudah siap.

Permasalahan

Pertama, jumlah peneliti masih menjadi kendala. Rasio Indonesia sekitar 300 peneliti per satu juta penduduk, sedangkan Korea Selatan sekitar 4.000 dan Malaysia sekitar 2.300 [2]. Belanja penelitian dan pengembangan Indonesia juga sekitar 0,3 persen dari PDB menurut data World Bank [3]. Perbandingan ini bukan alasan menyalin kebijakan negara lain, tetapi tanda bahwa tambahan dana harus disertai rencana kapasitas jangka panjang.

Kedua, formasi belum sama dengan karier. BRIN telah mengajukan bidang pemuliaan tanaman, nanoteknologi, genomika, antariksa, sains material, dan teknologi keberlanjutan [2]. Namun peneliti baru memerlukan laboratorium, pembimbing, jalur kenaikan, dan kesempatan memimpin proyek. Jika proses rekrutmen tidak jelas, lulusan doktor akan memilih industri atau luar negeri.

Ketiga, ukuran prestasi masih terlalu berpusat pada aktivitas. Kenaikan dana RIIM empat sampai lima kali lipat [4] akan bermanfaat bila seleksi dan evaluasinya juga membaik. Publikasi tetap penting untuk riset dasar, tetapi proyek terapan harus dinilai melalui prototipe, paten yang dilisensikan, kebijakan yang digunakan, atau produk yang diuji.

Keempat, hubungan industri dan universitas belum menjadi jalur karier yang stabil. Kajian kolaborasi menunjukkan bahwa komersialisasi memerlukan hubungan organisasi dan pengguna yang terstruktur [5]. Kajian R&D hijau juga menunjukkan bahwa investasi perlu dihubungkan dengan tata kelola dan kinerja inovasi [6]. Peneliti tidak cukup diberi target; mereka perlu mitra, data, alat, dan waktu.

Solusi Teknis

Kepastian rekrutmen periset. BRIN dan Kementerian PAN-RB menetapkan jadwal formasi pada H+30, mengumumkan kebutuhan pada H+60, dan menyelesaikan seleksi awal pada H+90. Setiap posisi diikat pada laboratorium dan proyek yang tersedia. Dampaknya adalah penambahan talenta tidak berhenti pada pengumuman. Kelayakannya didasarkan pada bidang prioritas yang sudah diajukan BRIN [2].

Jenjang karier ganda. Kemdiktisaintek dan BRIN menerbitkan pedoman pada H+60. Jalur karier akademik menilai pengetahuan, sedangkan jalur terapan menilai prototipe, paten, data, dan pemanfaatan kebijakan. Dampaknya adalah peneliti tidak dipaksa mengejar satu indikator. Kelayakannya meningkat jika evaluasi dibedakan menurut jenis riset dan dikaitkan dengan pendanaan [4].

Dana padanan industri. BRIN dan LPDP menetapkan skema pada H+60 dan memilih sepuluh mitra pada H+90. Dana pemerintah dipakai untuk mendampingi proyek yang memiliki kebutuhan produksi, bukan menggantikan belanja industri. Peneliti muda dapat magang dan peneliti industri dapat memakai fasilitas nasional. Dampaknya adalah kapasitas terapan tumbuh dan hubungan pengguna terbentuk sejak awal [5].

Laboratorium bersama dan diaspora. BRIN bersama perguruan tinggi mengumumkan lima proyek bersama pada H+90. Program dapat mencakup kepulangan sementara, akses alat, dan pembimbingan. Dampaknya adalah transfer keahlian tanpa menjadikan keberangkatan sebagai satu-satunya bentuk pengembangan. Kelayakannya bergantung pada kontrak kerja dan akses fasilitas yang jelas.

Audit talenta dan serapan. Kemdiktisaintek dan BPS memulai audit pada H+90. Laporan memuat jumlah peneliti, sebaran bidang, fasilitas, proyek, dan hasil yang dipakai. Dashboard juga memisahkan publikasi, kekayaan intelektual, prototipe, dan adopsi. Dampaknya adalah keputusan formasi dan pendanaan berbasis bukti, bukan perkiraan.

Audit tersebut harus dipakai untuk keputusan, bukan menjadi laporan tambahan yang tidak dibaca. Pemerintah perlu menetapkan siapa yang menindaklanjuti laboratorium kosong, proyek tanpa pembimbing, dan bidang yang tidak memiliki jalur kerja. Perguruan tinggi dapat memasukkan data peneliti muda, fasilitas, serta kemitraan ke dalam portofolio nasional. Industri juga perlu menyampaikan kebutuhan keahlian secara terbuka agar kurikulum doktor dan program magang tidak berjalan terpisah. Dengan cara ini, kenaikan anggaran memperkuat ekosistem, bukan hanya menambah jumlah kontrak.

Kritik terhadap talenta juga harus adil kepada peneliti. Tidak semua riset dapat menghasilkan produk dalam waktu singkat, terutama riset dasar. Yang harus dituntut adalah tujuan yang jelas, catatan kemajuan, dan alasan ketika proyek diteruskan atau dihentikan. Penilaian seperti itu membuat peneliti berani menguji hipotesis, sekaligus mencegah dana digunakan tanpa pertanggungjawaban. Retensi akan lebih mungkin terjadi bila karier memberi ruang untuk keahlian ilmiah dan kerja lintas sektor.

Risiko & Mitigasi

Risiko pertama adalah rekrutmen tanpa fasilitas. Mitigasinya, setiap formasi disetujui bersama inventaris laboratorium dan pembimbing. Risiko kedua adalah brain drain setelah pelatihan. Mitigasinya, karier, akses alat, dan kesempatan memimpin proyek diumumkan sejak awal. Risiko ketiga adalah industri hanya menjadi penerima subsidi. Mitigasinya, dana padanan dicairkan berdasarkan kontribusi dan uji pengguna. Risiko keempat adalah indikator mendorong perilaku manipulatif. Mitigasinya, audit independen dan penilaian yang berbeda untuk riset dasar serta terapan.

Aksi 90 Hari

Pada H+30, saya meminta jadwal formasi, audit laboratorium, dan peta bidang prioritas. Pada H+60, pemerintah menerbitkan jenjang karier ganda, dana padanan industri, dan rancangan program diaspora. Pada H+90, rekrutmen awal, lima laboratorium bersama, dan dashboard serapan diumumkan dengan data yang dapat ditelusuri. Simulasi AI untuk edukasi kebijakan — bukan pernyataan resmi pemerintah RI.

Sumber & Referensi

  1. Modal baru riset Indonesia menuju hilirisasi — ANTARA, diakses 2026-08-15.
  2. BRIN ajukan formasi periset di CPNS 2026 — Kompas TV, diakses 2026-08-15.
  3. Belanja penelitian dan pengembangan Indonesia — World Bank, diakses 2026-08-15.
  4. BRIN siap dongkrak dana riset RIIM hingga 4-5 kali lipat tahun 2026 — BRIN, diakses 2026-08-15.
  5. Industry-University Collaboration and Commercializing Chinese Corporate Innovation — jurnal, diakses 2026-08-15.
  6. Green R&D investment, ESG reporting, and corporate green innovation performance — jurnal, diakses 2026-08-15.